← semua berita

Antusiasme AI di China lebih dekat ke kecemasan ketimbang optimisme

AI · · · sumber (asteriskmag.com)

Survei demi survei menunjukkan jurang yang mencolok. AI Index 2026 dari Stanford menemukan 85 persen responden China menyebut AI bermanfaat, berbanding 45 persen responden Amerika. Studi KPMG bersama University of Queensland menaruh angka kepercayaan terhadap AI di 73 persen untuk China dan 52 persen untuk Amerika Serikat. Di Asterisk, Zilan Qian berargumen membaca angka ini sebagai optimisme adalah salah tafsir.

Argumennya menelusuri sejarah China. Saat badan usaha milik negara direstrukturisasi pada akhir 1990-an, sekitar 24 juta pekerja kehilangan pekerjaan sampai akhir 1999, dengan tujuh hingga sembilan juta orang di-PHK tiap tahun antara 1998 dan 2000. Di distrik Tiexi, Shenyang, separuh dari 300.000 buruh industri kehilangan pekerjaan. Qian mengutip antropolog Xiang Biao, yang menggambarkan pola pikir yang lahir dari masa itu: kamu menumpang bus menuju sukses, atau tertinggal selamanya. Tiap gelombang baru, dari kursus bahasa Inggris, internet seluler, sampai sekarang AI, diperlakukan sebagai bus terakhir.

Maka, ketika responden China bilang AI itu baik, kalimat itu bisa berarti tiga hal sekaligus: apresiasi yang tulus, keyakinan bahwa AI tak terhindarkan dan penting bagi negara, serta rasa takut tersingkir kalau ragu-ragu. Qian membandingkannya dengan pembayaran cashless, yang diadopsi orang sebagian karena menolaknya berarti tidak bisa berbelanja. Satu angka menangkap ketegangan ini: 49 persen responden memperkirakan AI akan mengambil lapangan kerja, dan tetap mengaku akan menerimanya. Seperti kata Qian, antusiasme dan rasa takut bukan dua hal yang saling meniadakan.

Kenapa ini penting

Kalau kamu memantau adopsi AI untuk menentukan ke mana mengarahkan pengembangan atau penjualan produk, angka persetujuan tinggi dari China bukan sinyal permintaan yang bersih. Adopsi defensif dan adopsi yang benar-benar mau terlihat sama di survei, tapi berperilaku sangat berbeda begitu produknya mengecewakan.

ChinaPolicy