Dipaksa memilih kandidat, Grok condong ke Republik dan GPT ke Demokrat
Studi dari Convovo, studio riset yang dipimpin profesor Cornell Tapan Parikh, memaksa dua model lewat API menyebut satu kandidat tanpa berdalih, di hampir 500 pemilihan midterm AS. Hasilnya kontras tajam. Grok 4.7 milik xAI memilih kandidat Republik 92% kasus, sementara GPT-6.1 Sol milik OpenAI memilih Demokrat 97% kasus, dan keduanya sepakat kurang dari 10%. Kecenderungan itu bertahan bahkan melawan karakter distrik: di kursi yang sangat Republik, GPT tetap memilih Demokrat di 57 dari 67 pemilihan, dan di kursi yang sangat Demokrat, Grok tetap memilih Republik di 47 dari 72.
Kedua model juga merujuk bukti yang berbeda. Grok kerap mengutip sumber konservatif, termasuk panduan pemilih kristen konservatif dan Turning Point Action, di samping unggahan di X, sedangkan GPT bersandar pada Wikipedia, AP, dan Reddit. Seperti dilaporkan TechCrunch, Parikh juga menemukan tiap request API Grok membawa sekitar 1.240 token tambahan yang tak pernah ia tulis dan tak bisa ia lihat, yang ia sebut kemungkinan instruksi tersembunyi. Saat ia mengulang 30 pemilihan dengan pencarian web dimatikan, GPT tetap condong ke Demokrat sementara Grok sebagian besar menolak memilih. Ini mengisyaratkan bias GPT tertanam di bobotnya, sedangkan bias Grok bergantung pada apa yang ia temukan saat mencari. Kedua aplikasi konsumen, ChatGPT dan Grok, sama-sama menolak memilih.
Kenapa ini penting
Kalau kamu membangun di atas API ini atau menganggap chatbot sumber netral, kondisi bawaannya tidak netral: kecenderungan satu model hidup di training-nya dan satu lagi menumpang pada sumber pencariannya, dan Grok menyisipkan instruksi ke dalam request yang tak bisa diperiksa atau dihapus oleh pengembang.