Melarang AI open-source justru bakal merugikan Amerika
Washington sedang bergerak ke arah kontrol yang lebih ketat atas AI frontier: ada perintah eksekutif untuk meninjau model, rancangan undang-undang di Kongres, wacana pemerintah mengambil saham di lab-lab besar, dan pembatasan warga negara asing mana yang boleh memakai model Anthropic paling canggih. Lewat tulisan yang mereka sebut ditolak media arus utama, Nathan Lambert dan Kevin Xu menegaskan bahwa memperluas aturan itu ke AI open-source adalah kekeliruan serius. Inti argumennya sederhana: open-source cuma cara berbagi dan membangun software secara terbuka, dan rekam jejaknya selama ini aman serta bermanfaat secara ekonomi.
Angka yang mereka sodorkan sulit dibantah. Lebih dari 90 persen software dunia dibangun di atas open-source, yang mereka taksir telah menghasilkan nilai lebih dari 8 triliun dolar. Linux menjalankan lebih dari 90 persen infrastruktur cloud, Android membuka persaingan di pasar smartphone, dan Meta membangun produk awalnya memakai tools terbuka. Soal keamanan, mereka mengandalkan prinsip lama bahwa makin banyak mata yang memeriksa, makin cepat bug ketahuan, lalu menambahkan bahwa open model yang dijalankan di mesin sendiri tidak mengirim data ke mana pun.
Bagian paling tajam menyangkut China. Lambert dan Xu berpendapat, menekan open weights untuk memperlambat lab China justru akan berbalik arah. Langkah itu akan membekukan kerja di Amerika, sementara dunia yang kehilangan open model kompetitif dari Amerika akhirnya beralih memakai model buatan China.
Kenapa ini penting
Kalau Anda membangun di atas open weights, aturan yang sedang dirancang sekarang bisa menentukan apakah pilihan itu tetap ada. Penulisnya mengajak para developer dan pembuat kebijakan memisahkan kekhawatiran yang sebenarnya, yaitu kemampuan model frontier, dari metode distribusinya, dan mengawasi rancangan aturan ini sebelum diam-diam menutup satu pintu penting.