Ethan Mollick: pekerjaannya bergeser dari mengobrol dengan AI ke mengelolanya
Esai Ethan Mollick menelusuri pergeseran arti memakai AI itu sendiri. Fase pertama adalah co-intelligence, bolak-balik antara orang dan model. Fase yang ia gambarkan sekarang bersifat pengawasan: kamu memberi agent sebuah peta jalan, lalu ia bekerja berjam-jam, menulis, menguji, dan merilis, sementara kamu mengelolanya, bukan mem-prompt-nya.
Ia menopang klaim itu dengan angka, dan justru itu yang membuat tulisannya layak dibaca, bukan sekadar memancing. Pada Google-Proof Q&A, model kini mencapai 94 persen melawan rentang manusia 34 sampai 70 persen. Pada benchmark GDPval berisi tugas ekonomi nyata, sistem terbaru menyamai manusia terbaik sekitar 82 persen dari waktu. Satu tim yang ia kutip menghabiskan sekitar 1.000 dolar sehari untuk token per insinyur. Poin yang lebih tajam: gangguan datang dari banyak sisi sekaligus. Dalam satu pekan akhir Februari, sebuah perusahaan mengumumkan PHK 40 persen sambil menyebut AI, bersamaan dengan gejolak pasar dan pertikaian tata kelola.
Argumennya terasa tidak nyaman justru karena spesifik, bukan sekadar visioner.
Kenapa ini penting
Kalau kamu memimpin tim, pertanyaannya bukan lagi apakah mencoba agent, melainkan bagaimana mengawasinya: jarak benchmark dengan manusia terampil menutup cepat, dan perubahan organisasi yang digambarkan Mollick tiba sebelum kebanyakan tim punya proses meninjau kerja yang tak ditulis manusia.