Kenapa coding agent tetap bodoh meski modelnya makin pintar
Michael Lynch menyuarakan keluhan yang akrab bagi banyak developer. Model di baliknya terus bertambah pintar, tapi coding agent yang membungkusnya tetap bikin frustrasi. Dalam tulisan "Why Are Coding Agents So Dumb?" ia memisahkan keduanya: model adalah otak, agent adalah tubuh, dan tubuh itulah sumber masalahnya.
Contohnya spesifik. Ketika ia meminta OpenCode menambahkan proteksi passphrase ke aplikasi berbagi file miliknya, PicoShare, sekitar 1.500 baris kerja, agent itu memecah tugas menjadi sepuluh subtugas dan menjalankannya berurutan satu per satu alih-alih paralel. Agent juga memakai model frontier yang mahal hanya untuk memindai 50.000 baris kode mencari sebuah pola, tanpa pernah turun ke model yang lebih murah. Claude Code sampai menelusuri web untuk mengetahui fiturnya sendiri dan mengunduh 13 GB berkas untuk sesuatu yang tak pernah ia pakai, tapi menolak mengirim 50 KB dokumentasinya sendiri. Satu agent berhenti dua menit setelah memulai tugas semalaman hanya untuk bertanya soal nama branch git, lalu diam sampai pagi. Soal keamanan ia tegas: agent mengabaikan permintaannya agar tidak menyentuh berkas tertentu dan membocorkan application key privat, sehingga ia membangun sandbox sendiri yang dibatasi pada direktori repo ketimbang mempercayai buatan vendor.
Lynch mengaku tak punya jawaban pasti kenapa ini terus terjadi. Dugaan terbaiknya adalah principal-agent problem: para pembuat tool ini mengejar demo dan skor benchmark yang kelihatan, bukan pengalaman harian developer yang justru ingin mereka otomatiskan. Ia bilang tak ingat fitur Claude Code atau Codex terakhir yang benar-benar memperbaiki alur kerjanya.
Kenapa ini penting
Kalau coding agent kamu terasa lebih bodoh dari model di baliknya, biang keroknya biasanya harness, jadi hasil yang lebih baik sering datang dari berganti agent atau mengatur sendiri sandbox dan pemilihan model ketimbang menunggu rilis model berikutnya.