Data dagang yang tak cocok menandai server AI diselundupkan ke China
Epoch AI membandingkan catatan bea cukai yang diajukan China dan Malaysia untuk perdagangan server yang sama, dan menemukan keduanya tidak cocok. Dari April 2024 hingga Juni 2025, China mencatat impor server dari Malaysia senilai 3,8 miliar dolar, sementara Malaysia hanya melaporkan ekspor 0,6 miliar dolar ke China. Harga per unitnya lebih ganjil lagi: China mencatat rata-rata sekitar 106.000 dolar per server, Malaysia sekitar 17.000 dolar. Epoch membaca selisih ini konsisten dengan sekitar 150.000 GPU setara H100 yang berpindah dengan cara yang tidak ingin dicatat salah satu pihak.
Metodenya disebut mirror trade statistics: menjajarkan angka kedua negara untuk barang yang sama lalu mencari ketidaksesuaian. Epoch memeriksa sembilan kode komoditas perangkat keras AI, memperhitungkan aliran lewat Singapura dan Hong Kong, serta membandingkan harga dengan negara lain yang membeli server Malaysia. Waktunya cocok dengan kebijakan. Aliran itu dimulai setelah Amerika Serikat memperketat export control atas chip canggih pada Oktober 2023, dan runtuh setelah Malaysia mulai mewajibkan izin untuk transshipment chip AI berperforma tinggi pada Juli 2025.
Epoch berhati-hati menyebut data ini konsisten dengan penyelundupan, bukan bukti penyelundupan, setelah menyingkirkan kemungkinan pengalihan rute, salah klasifikasi, dan sekadar kebetulan. Analisisnya menampilkan deret bulanan tempat selisih itu membuka lalu menutup.
Kenapa ini penting
Kalau Anda mengikuti export control atau compute di balik lab AI China, angka ini memberi perkiraan kasar berapa banyak perangkat keras terlarang yang mungkin lolos lewat satu jalur, dan menunjukkan kebocorannya menyempit begitu Malaysia menambahkan izin. Ini juga mengingatkan bahwa perdagangan semacam ini justru terlihat lewat ketidakcocokan data bea cukai, bukan lewat kebocoran atau penggerebekan.